Abstrak :
Peranan teknologi informasi di perpustakaan pada saat ini sangat
dibutuhkan. Kehadiran teknologi informasi menyebabkan pengelolaan informasi
oleh pekerja di bidang informasi akan menjadi lebih mudah dan cepat.
Perpustakaan merupakan salah satu institusi yang bergerak dalam bidang
pengelolaan informasi sangat memerlukan teknologi informasi. Dengan adanya
teknologi informasi dapat membantu pustakawan untuk mengerjakan tugas-tugas
kepustakawanan secara lebih professional, dan memberikan dampak yang positif
bagi perpustakaan yaitu dapat bermanfaat dan mendukung tugas-tugas
perpustakaan. Pada umumnya perpustakaan berbasis teknologi informasi terdiri
atas beberapa komponen yaitu :
1.
Perangkat keras : server,
modem, scanner, harddisk dll.
2.
Perangkat lunak : database,
indexing, internet, WB.
3.
Sumber daya manusia (SDM) yang
mempunyai keterampilan di bidang tehnologi informasi dan pengetahuan
perpustakaan.
4.
Koleksi perpustakaan yang
mengarah pada koleksi elektronik
Implementasi tehnologi perpustakaan dapat mengubah citra
perpustakaan dari perpustakaan tradisional menjadi perpustakaan modern, dimana
teknologi informasi akan menjadi pilar utama operasional perpustakaan, sehingga
akhirnya kita mengenal istilah perpustakaan modern, seperti electronic
library, digital library, cyber library,
komputerisasi perpustakaan dan perpustakaan maya (virtual library).
Pendahuluan
Ledakan informasi (information explosion) dapat menyebabkan
terjadinya peningkatan kebutuhan akan layanan informasi yang merupakan hal yang
harus ada bagi (sin que non) manusia. Dengan adanya informasi maka
ketidakjelasan yang dapat teratasi. Dewasa ini, perkembangan informasi yang
sangat cepat menuntut pengelolaan yang lebih optimal. Berkenaan dengan hal tersebut,
peranan teknologi informasi (TI) di perpustakaan sangat dirasakan. Kehadiran TI
menyebabkan pengelolaan informasi (TI) oleh pekerja di bidang informasi akan
menjadi lebih mudah dan cepat. Pada dasarnya, teknologi informasi merupakan
aplikasi komputer dan teknologi lain untuk pengadaan, penataan, simpan dan temu
balik informasi, serta penyebaran informasi (American Library Association,
1983: 183) . Pengertian tersebut menekankan bahwa teknologi informasi merupakan
kombinasi komputasi dan teknologi telekomunikasi berbasis mikro elektronik.
Teknologi informasi dapat mempengaruhi kegiatan suatu instansi.
Teknologi Informasi dimanfaatkan untuk melakukan pekerjaan biasa dengan proses
penyelesaian yang lebih cepat dan tepat seperti kegiatan rutin perpustakaan. Di
samping itu, teknologi informasi dimanfaatkan untuk mempermudah proses
penyimpanan informasi dan mendorong terjadinya perubahan style institusi. Pola
hidup seperti ini diharapkan dapat mendorong terjadinya masyarakat informasi (information
society), yaitu masyarakat yang menganggap informasi merupakan kebutuhan
utama.
Perpustakaan merupakan salah satu institusi yang bergerak di
bidang pengelolaan informasi sangat memerlukan teknologi informasi. Dengan
adanya teknologi tersebut dapat membantu pustakawan untuk mengerjakan
tugas-tugas kepustakawanan secara lebih professional. Pada saat ini, teknologi
informasi yang paling banyak dikenal di perpustakaan adalah teknologi komputer.
Manfaat komputer sangat besar dalam pelaksanaan otomasi perpustakaan, yaitu
pemanfaatan perangkat komputer dan teknologi lain secara terpadu (integrated)
pada berbagai aktivitas perpustakaan seperti penelusuran informasi, pengadaan
dan pengolahan bahan pustaka, sirkulasi dan administrasi perpustakaan dengan
tujuan untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas pengelolaan perpustakaan.
Otomasi perpustakaan dapat dilakukan secara bertahap yaitu tingkat pra
jaringan, tingkat jaringan local (LAN), tingkat jaringan luas (WAN) dan tingkat
global atau internet (Purnomo, 1999: 8-9).
Perpustakaan hendaknya menerapkan teknologi informasi. Hal ini
disebabkan adanya peningkatan dan keragaman pekerjaa perpustakaan, kesulitan
dana, keragaman kebutuhan pengguna perpustakaan, ketatnya persaingan layanan di
bidang informasi, dan trend menuju masyarakat informasi. Semua kendala tersebut
dapat diatasi dengan implementasi teknologi informasi di perpustakaan secara
optimal.
Dari uraian tersebut di atas, dapat dikatakan bahwa teknologi
informasi memberikan dampak yang positif bagi perpustakaan yaitu dapat
bermanfaat dan mendukung tugas-tugas perpustakaan. Namun demikian kehadiran TI
dapat juga menjadi hambatan bagi pustakawan karena pengguna potensial mempunyai
anggapan bahwa kebutuhan informasi dapat terpenuhi melalui penyediaan
layanan teknologi yang dimiliki di rumah atau di kantor lain tanpa harus
ke perpustakaan. Untuk itu perpustakaan harus cermat menerapkan prinsip-prinsip
optimalisasi pelayanan informasi.
Persepsi Teknologi Informasi dan Perkembangannya di Indonesia
Pentingnya teknologi informasi sudah disadari sejak tahun 1980 (Devargas, 1993: 1). Kecenderungan tersebut ditandai dengan hadirnya personal computer (PC) yang awalnya dimanfaatkan untuk kegiatan tulis-menulis, penghitungan atau sejenisnya. Pada saat sekarang manfaat PC terlihat juga pada komunikasi informasi berbasis TI seperti resource sharing, searching di internet dan sebagainya. Sebelumnya komunikasi informasi dilakukan secara atap muka, penyuluhan dan sejenisnya, namun dengan adanya perkembangan TI yang semakin maju maka komunikasi informasi dapat dilakukan melalui media eletronik (radio. Televisi), media cetak (Koran. Publikasi lainnya) dan media maya (virtual media) seperti Koran online, internet dan sejenisnya. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa terjadinya gerakan inovasi teknologi yang begitu cepat. Inovasi teknologi tersebut cenderung mengarah kepada pengabungan beberapa teknologi dans sering dikenal dengan proses “konvergensi teknologi” yang terdiri dari telekomunikasi, komputer dan broadcast (communication, computing, content) atau sering disebut dengan istilah telematika (telekomunikasi=media-informatika).
Pentingnya teknologi informasi sudah disadari sejak tahun 1980 (Devargas, 1993: 1). Kecenderungan tersebut ditandai dengan hadirnya personal computer (PC) yang awalnya dimanfaatkan untuk kegiatan tulis-menulis, penghitungan atau sejenisnya. Pada saat sekarang manfaat PC terlihat juga pada komunikasi informasi berbasis TI seperti resource sharing, searching di internet dan sebagainya. Sebelumnya komunikasi informasi dilakukan secara atap muka, penyuluhan dan sejenisnya, namun dengan adanya perkembangan TI yang semakin maju maka komunikasi informasi dapat dilakukan melalui media eletronik (radio. Televisi), media cetak (Koran. Publikasi lainnya) dan media maya (virtual media) seperti Koran online, internet dan sejenisnya. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa terjadinya gerakan inovasi teknologi yang begitu cepat. Inovasi teknologi tersebut cenderung mengarah kepada pengabungan beberapa teknologi dans sering dikenal dengan proses “konvergensi teknologi” yang terdiri dari telekomunikasi, komputer dan broadcast (communication, computing, content) atau sering disebut dengan istilah telematika (telekomunikasi=media-informatika).
Pada awalnya, teknologi informasi dipersepsikan dengan berbagai
hal seperti alat yang besar dan mahal, bentuknya canggih atau modern (elit) dan
sejenisnya. Namun dengan sosialisasi dan promosi yang gencar maka persepsi
masyarakat terhadapa teknologi informasi semakin jelas. Masyarakat mulai dari
anak-anak sampai orang tua sudah mengenal dan menggunakan alat-alat berbasis TI
seperti handphone, mobile remote, TV kabel, internet dan
sebagainya. Gejala seperti menunjukkan adanya kesadaran masyarakat akan pentingnya
TI dalam berbagai aspek kehidupan. Masyarakat diharapkan agar memilih dan
memanfaatkan TI pada hal-hal positif.
Walaupun teknologi informasi telah berkembang pesat, namun perkembangannya di Indonesia masih belum sepesat di negara-negara maju. Data dari Paul Kinberly dalam Siregar (2004:3) menunjukkan beberapa indicator teknologi informasi di Indonesia yaitu :
Walaupun teknologi informasi telah berkembang pesat, namun perkembangannya di Indonesia masih belum sepesat di negara-negara maju. Data dari Paul Kinberly dalam Siregar (2004:3) menunjukkan beberapa indicator teknologi informasi di Indonesia yaitu :
– 2 juta pengguna internet (20 juta tahun 2010)
– 30-40 ISP aktif dari 140 yangmemperoleh izin
– 5,55\ juta line telephone (3% jumlah penduduk)
– 1,8 juta telepon bergerak
– 2.500.000 komputer personel (PC)
– 187.000 wartel
Notodiprojo (2004:3) memberikan perbandingan penggunaan teknologi
informasi di beberapa negara termasuk di Indonesia seperti dalam table berikut
:
Digital Devide di Indonesia
Digital Devide di Indonesia
Kondisi seperti di atas sangat erat kaitannya dengan kesiapan
masyarakat Indonesia dalam menerima teknologi informasi. Di Samping itu,
kebijakan pemerintah dalam pengembangan teknologi informasi di Indonesia
seperti pembangunan infrastruktur dan kualitas TI masih belum merata sangat
mempengaruhi kondisi itu.
Perpustakaan Bebasis Teknologi Informasi
Pada umumnya, teknologi informasi di perpustakaan terdiri atas
beberapa komponen yaitu :
– Perangkat keras seperti server, modem, scanner, harddisk, printer, CD Writer, CD-ROM, kamera digital, dan sebagainya.
– Perangkat lunak seperti database, indexing, internet, WB, server dan sebagainya
– Sumber Daya Manusia (SDM) yang mempunyai ketrampilan di bidang teknologi informasi dan pengetahuan perpustakaan.
– Koleksi perpustakaan yang mengarah pada koleksi elektronik
– Perangkat keras seperti server, modem, scanner, harddisk, printer, CD Writer, CD-ROM, kamera digital, dan sebagainya.
– Perangkat lunak seperti database, indexing, internet, WB, server dan sebagainya
– Sumber Daya Manusia (SDM) yang mempunyai ketrampilan di bidang teknologi informasi dan pengetahuan perpustakaan.
– Koleksi perpustakaan yang mengarah pada koleksi elektronik
Walaupun spesifikasi alat yang dibutuhkan oleh perpustakaan
seperti tersebut, namun dalam implementasinya tidak harus memerlukan
keseluruhan alat di atas, mengingat dana yang di alokasikan perpustakaan masih
minim. Untuk itu dalam pengembangan teknologi informasi di perpustakaan dapat
melalui beberapa tahap yaitu komputerisasi perpustakaan, pengembangan koleksi
elektronik, penyediaan sarana dari sumber internet dan koperasi dengan
organisasi perpustakaan local dan luar negeri (Siregar, 2004:5)
Implementasi teknologi informasi di perpustakaan dapat mengubah
citra perpustakaan. Dahulu kita sering mengenal istilah “perpustakaan adalah
tempat buangan”, “pustakawan adalah hanya seorang penjaga rak saja”, dan sejenisnya,
namun dengan adanya teknologi tersebut citra perpustakaan jadi berubah, dalam
hal ini, kondisi perpustakaan dulu (tradisional) lambat laun berubah menjadi
perpustakaan modern, dimana teknologi informasi menjadi pilar utama operasional
perpustakaan, sehingga akhirnya kita mengenal istilah perpustakaan modern
seperti electronic library, digital library, cyber
library, komputerisasi perpustakaan dan perpustakaan maya (virtual
library). Perpustakaan digital (digital library) memfokuskan pada
penyediaan layanan bahan pustaka full text berformat digital
dan bahan multi media berbasis web atau CD sedangkan cyber mengacu
kepada kehidupan maya dalam jaringan komunikasi global. Dari semua istilah
tersebut di atas dapat dikatakan bahwa teknologi informasi merupakan tulang
punggung (backbone) bagi perpustakaan modern.
Beberapa manfaat teknologi informasi bagi perpustakaan dapat diuraikan sebagai berikut :
– Melalui teknologi informasi, akses menjadi sangat mudah, cepat dan tidak mengenal batas jarak dan waktu
– Akses content menuju on-line
– Adanya perubahan pola dan paradigma pengelolaan perpustakaan yang selalu menekankan pada efisiensi dan kecepatan pelayanan
– Adanya koleksi elektronik seperti CD-ROM, E-Journal dan sejenisnya,
– Adanya sarana barcode, maka peminjaman koleksi secara fisik akan dapat di proses dengan cepat.
– Koleksi fisik lebih terjamin karena adanya sensor elektronik
Beberapa manfaat teknologi informasi bagi perpustakaan dapat diuraikan sebagai berikut :
– Melalui teknologi informasi, akses menjadi sangat mudah, cepat dan tidak mengenal batas jarak dan waktu
– Akses content menuju on-line
– Adanya perubahan pola dan paradigma pengelolaan perpustakaan yang selalu menekankan pada efisiensi dan kecepatan pelayanan
– Adanya koleksi elektronik seperti CD-ROM, E-Journal dan sejenisnya,
– Adanya sarana barcode, maka peminjaman koleksi secara fisik akan dapat di proses dengan cepat.
– Koleksi fisik lebih terjamin karena adanya sensor elektronik
Menurut Henderson (1992) dalam Sulistyo (1998:3) manfaat teknologi
informasi.
Bagi pemakai perpustakaan adalah (1) menyediakan akses yang cepat dan mudah (2) menyediakan akses bagi pemakai selama 24 jam bila TI dioperasikan selama 24 jam, (3) menyediakan akses pada informasi yang tidak terbatas dari berbagai jenis sumber (4) menyediakan informasi yang lebih mutakhir (5) menyediakan data dari berbagai sumber.
Perpustakaan berbasis teknologi informasi sangat tergantung juga pada faktor pendukung seperti dukungan internal, alokasi anggaran, volunteer dan bantuan-bantuan dari pihak terkait. Untuk itu faktor pendukung harus dapat berperan secara optimal dalam implementasi teknologi informasi di perpustakaan.
Bagi pemakai perpustakaan adalah (1) menyediakan akses yang cepat dan mudah (2) menyediakan akses bagi pemakai selama 24 jam bila TI dioperasikan selama 24 jam, (3) menyediakan akses pada informasi yang tidak terbatas dari berbagai jenis sumber (4) menyediakan informasi yang lebih mutakhir (5) menyediakan data dari berbagai sumber.
Perpustakaan berbasis teknologi informasi sangat tergantung juga pada faktor pendukung seperti dukungan internal, alokasi anggaran, volunteer dan bantuan-bantuan dari pihak terkait. Untuk itu faktor pendukung harus dapat berperan secara optimal dalam implementasi teknologi informasi di perpustakaan.
Pustakawan dan Teknologi Informasi
Salah satu kendala dalam implementasi teknologi informasi di perpustakaan adalah mengenai sumber daya manusia (SDM) perpustakaan. Kondisi SMD perpustakaan di Indonesia pada umumnya adalah secara kulaitas dan kuantitas masih terbatas, tidak merata dan kurang adanya kreativitas dan keinginan untuk menekuni profesi secara mendalam. Sementara itu, perpustakaan berbasis teknologi informasi menuntut SDM (pustakawan) yang memiliki keterampilan di bidang database, aplikasi perpustakaan, internet, jaringan serta pengelolaan komputer. Untuk menjaga kualitas SDM , maka pustakawan sebagai pengelola perpustakaan harus mempunyai persepsi dan meyakini bahwa TI merupakan bagian penting dalam pengelolaan perpustakaan.
Salah satu kendala dalam implementasi teknologi informasi di perpustakaan adalah mengenai sumber daya manusia (SDM) perpustakaan. Kondisi SMD perpustakaan di Indonesia pada umumnya adalah secara kulaitas dan kuantitas masih terbatas, tidak merata dan kurang adanya kreativitas dan keinginan untuk menekuni profesi secara mendalam. Sementara itu, perpustakaan berbasis teknologi informasi menuntut SDM (pustakawan) yang memiliki keterampilan di bidang database, aplikasi perpustakaan, internet, jaringan serta pengelolaan komputer. Untuk menjaga kualitas SDM , maka pustakawan sebagai pengelola perpustakaan harus mempunyai persepsi dan meyakini bahwa TI merupakan bagian penting dalam pengelolaan perpustakaan.
Berkenaan dengan hal tersebut di atas, maka pemberian pendidikan
dan pelatihan (Diklat) tentang teknologi informasi sangat perlu dilakukan.
Tujuan pelatihan atau lokakarya implementasi teknologi informasi di
perpustakaan adalah :
– Untuk memberikan informasi tentang pentingnya teknologi informasi bagi perpustakaan
– Untuk menyediakan akses informasi yang diperlukan bagi kegiatan pendidikan dan penelitian di perpustakaan.
– Untuk mengimplementasikan sistem informasi perpustakaan.
– Untuk meningkatkan pelayanan dan fungsi tenaga perpustakaan
– Untuk memberikan informasi tentang pentingnya teknologi informasi bagi perpustakaan
– Untuk menyediakan akses informasi yang diperlukan bagi kegiatan pendidikan dan penelitian di perpustakaan.
– Untuk mengimplementasikan sistem informasi perpustakaan.
– Untuk meningkatkan pelayanan dan fungsi tenaga perpustakaan
Dengan pemberian pelatihan atau lokakarya diharapkan staf
perpustakaan mengenai teknologi informasi menjadi meningkat. Di samping itu,
dengan adanya pelatihan atau lokakarya itu, minat para staf terhadap aplikasi
teknologi informasi menjadi tinggi, serta adanya citra (image)
pustakawan modern meningkat.
Peningkatan Mutu Layanan Perpustakaan Melalui Teknologi Informasi
Keberhasilan perpustakaan sangat ditentukan layanan yang diberikan kepada pemakai. Layanan perpustakaan sebenarnya merupakan suatu proses aktivitas yang mencakup perencanaan, implementasi dan monitoring. Efektifitas layanan harus diukur dalam konteks sejahu mana layanan dapat memuaskan pemakainya bukan sekedar seberapa banyak yang dapat di raih (Bawden, 1990 : 49). Pada umumnya, pemakai akan merasa puas jika kebutuhan informasinya terpenuhi (Wilard, 1983 : 41). Layanan perpustakaan akan semakin bermutu jika tingkat keterpakaian koleksi dan kepuasan pemakai semakin meningkat. Oleh karena itu, agar mutu layanan perpustakaan meningkat, maka pengelola perpustakaan harus dapat merespon kebutuhan pemakai.
Keberhasilan perpustakaan sangat ditentukan layanan yang diberikan kepada pemakai. Layanan perpustakaan sebenarnya merupakan suatu proses aktivitas yang mencakup perencanaan, implementasi dan monitoring. Efektifitas layanan harus diukur dalam konteks sejahu mana layanan dapat memuaskan pemakainya bukan sekedar seberapa banyak yang dapat di raih (Bawden, 1990 : 49). Pada umumnya, pemakai akan merasa puas jika kebutuhan informasinya terpenuhi (Wilard, 1983 : 41). Layanan perpustakaan akan semakin bermutu jika tingkat keterpakaian koleksi dan kepuasan pemakai semakin meningkat. Oleh karena itu, agar mutu layanan perpustakaan meningkat, maka pengelola perpustakaan harus dapat merespon kebutuhan pemakai.
Dengan adanya perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat,
maka perpustakaan sangat perlu mengimplementasikan TI secara terpadu (integrated)
pada berbagai aktifitas perpustakaan untuk mencapai layanan prima. Berbagai
kegiatan yang dapat meningkatkan mutu layanan perpustakaan antara lain
pengelolaan koleksi, pengolahan data perpustakaan, seleksi dan akuisisi, system
sirkulasi dan informasi serta kajian pemakai disamping katalog berbasis web, penelusuran
bahan pustaka (OPAC) statistik dan sebagainya.
Sasaran teknologi informasi dalam meningkatkan mutu layanan adalah
akses yang mudah, cepat dan akurat melalui jaringan telekomunikasi (LAN, WAN,
Internet) baik internal maupun eksternal (pemakai). Di samping itu penyediaan
jaringan dari sumber elektronik berupa teknologi digital bagi pemakai akan
mempercepat terbentuknya masyarakat informasi. Menurut Siregar (2004 : 6),
isu-isu managemen teknologi informasi yang penting dalam peningkatan mutu layanan
perpustakaan adalah skill telemanaging koleksi, hindari kepemilikan data
sendiri, kemitraan, lisensi, intellectual property dan pengembangan system. Ke
semua isu manajemen tersebut hendaknya dijadikan pedoman untuk pengembangan TI
perpustakaan.
Penutup
1. Kesamaan perpsepsi dan pandangan antar pengelola perpustakaan dan pihak terkait seperti pimpinan institusi, pemerhati dan pengguna perpustakaan tentang teknologi informasi sangat perlu dilakukan, karena pemahaman tersebut dapat mendorong kita semua untuk memacu diri aktif sebagai pelaku dalam perkembangan teknologi informasi perpustakaan.
2. Untuk mewujudkan masyarakat yang haus akan informasi atau yang sering dikenal dengan masyarakat informasi (information society), maka evolusi teknologi informasi pasti akan terus terjadi, untuk itu persiapan dan adaptasi diri sangat penting dilakukan agar kita tidak menjadi “gagap teknologi”.
1. Kesamaan perpsepsi dan pandangan antar pengelola perpustakaan dan pihak terkait seperti pimpinan institusi, pemerhati dan pengguna perpustakaan tentang teknologi informasi sangat perlu dilakukan, karena pemahaman tersebut dapat mendorong kita semua untuk memacu diri aktif sebagai pelaku dalam perkembangan teknologi informasi perpustakaan.
2. Untuk mewujudkan masyarakat yang haus akan informasi atau yang sering dikenal dengan masyarakat informasi (information society), maka evolusi teknologi informasi pasti akan terus terjadi, untuk itu persiapan dan adaptasi diri sangat penting dilakukan agar kita tidak menjadi “gagap teknologi”.
Sumber :
http://digilib.undip.ac.id/v2/2012/05/22/implementasi-teknologi-informasi-sebagai-usaha-peningkatan-mutu-layanan-perpustakaan/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar