Tenaga
Kerja Indonesia (TKI) asal Madura, Jawa Timur, Muhammad Zaini Misrin telah
dieksekusi mati Pemerintah Arab Saudi pada Minggu (18/3). Zaini dinilai
terbukti bersalah membunuh majikannya, Abdullah bin Umar Muhammad Al
Sindy.
Pria 53 tahun itu merupakan warga Desa Kebun, Kecamatan Kamal, Kabupaten Bangkalan, Madura. Selama lebih dari 30 tahun Zaini mengadu nasib di Saudi. Ia bekerja sebagai sopir.
Pada 13 Juli 2004, polisi Saudi menangkap Zaini atas tuduhan membunuh majikan. Direktur Eksekutif Migrant Care Wahyu Susilo mengatakan selama proses hukum, Zaini menyatakan dirinya dipaksa mengaku telah membunuh.
"Zaini
Misrin mendapat tekanan dari aparat Saudi Arabia untuk membuat pengakuan bahwa
dia melakukan pembunuhan (perbuatan yang tidak dilakukannya)," kata Wahyu dalam
keterangan tertulis yang diterima CNNIndonesia, Senin (19/3).
Selain itu, dalam proses peradilan Zaini hanya didampingi penerjemah asal Saudi. Ironisnya, kata Wahyu, penerjemah itu juga tak netral.
Hingga akhirnya hakim memvonis hukuman mati terhadap Zaini pada 17 November 2008. Usai vonis tersebut, pihak Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah baru mendapatkan akses untuk menjumpai Zaini pada 2009.
Zaini memberi kesaksian kepada KJRI bahwa dirinya dipaksa mengakui perbuatan pembunuhan terhadap majikan. Ia mengaku mendapat tekanan dari polisi Saudi dan penerjemah.
Selain itu, dalam proses peradilan Zaini hanya didampingi penerjemah asal Saudi. Ironisnya, kata Wahyu, penerjemah itu juga tak netral.
Hingga akhirnya hakim memvonis hukuman mati terhadap Zaini pada 17 November 2008. Usai vonis tersebut, pihak Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah baru mendapatkan akses untuk menjumpai Zaini pada 2009.
Zaini memberi kesaksian kepada KJRI bahwa dirinya dipaksa mengakui perbuatan pembunuhan terhadap majikan. Ia mengaku mendapat tekanan dari polisi Saudi dan penerjemah.
Pihak KJRI
Jeddah kemudian mengirim surat permohonan kepada Kementerian Luar Negeri Arab
Saudi untuk mengupayakan pembebasan atas hukuman mati yang dijatuhkan kepada
Zaini pada Juli 2009. Pada 18 Oktober 2009, langkah ini dilanjutkan dengan
pendampingan sidang banding atas vonis hukuman mati terhadap Zaini.
Investigasi ulang sempat dilakukan sepanjang 2011 hingga 2014 terkait kasus ini atas desakan KJRI Jeddah dan beberapa bukti yang disampaikan ke Mahmakah Banding. Namun Zaini tetap harus menjalani hukuman penjara hingga menunggu saat eksekusi.
Upaya banding dan mendorong investigasi ulang terhadap kasus ini belum membuahkan hasil.
Permohonan pengampunan hukuman untuk Zaini juga pernah disampaikan Presiden Joko Widodo dalam lawatannya ke Saudi pada September 2015. Begitu pula saat Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz berkunjung ke Indonesia pada Maret 2017, permintaan itu kembali diajukan.
Terakhir pada November 2017, Jokowi kembali mengirim surat permohonan pembebasan atas kasus Zaini beserta TKI lain yang terancam eksekusi mati.
Investigasi ulang sempat dilakukan sepanjang 2011 hingga 2014 terkait kasus ini atas desakan KJRI Jeddah dan beberapa bukti yang disampaikan ke Mahmakah Banding. Namun Zaini tetap harus menjalani hukuman penjara hingga menunggu saat eksekusi.
Upaya banding dan mendorong investigasi ulang terhadap kasus ini belum membuahkan hasil.
Permohonan pengampunan hukuman untuk Zaini juga pernah disampaikan Presiden Joko Widodo dalam lawatannya ke Saudi pada September 2015. Begitu pula saat Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz berkunjung ke Indonesia pada Maret 2017, permintaan itu kembali diajukan.
Terakhir pada November 2017, Jokowi kembali mengirim surat permohonan pembebasan atas kasus Zaini beserta TKI lain yang terancam eksekusi mati.
Dubes RI
untuk Saudi, Agus Maftuh Abegebriel mengatakan Presiden Jokowi telah
melayangkan surat sebanyak dua kali kepada Raja Salman untuk meminta penundaan
eksekusi dan peninjauan kembali kasus Zaini. Namun, permintaan itu tidak
digubris Saudi.
"Presiden Jokowi telah melakukan extraordinary action dengan mengirim surat dua kali ke Raja Salman agar pemerintah Saudi melakukan penundaan eksekusi dan peninjauan kembali atas kasusnya," kata Agus.
Zaini tetap dieksekusi kemarin, setelah hukuman mati juga diterapkan kepada Yanti Iriyanti, Ruyati, Siti Zaenab, dan Karni.
"Presiden Jokowi telah melakukan extraordinary action dengan mengirim surat dua kali ke Raja Salman agar pemerintah Saudi melakukan penundaan eksekusi dan peninjauan kembali atas kasusnya," kata Agus.
Zaini tetap dieksekusi kemarin, setelah hukuman mati juga diterapkan kepada Yanti Iriyanti, Ruyati, Siti Zaenab, dan Karni.
1. Analisis
Dalam menjadi TKI dan
pergi ke luar negeri itu memang sangatlah sulit, kita berada di negara orang,
dengan ilmu yang minim, tidak begitu mengerti bahasanya. Dalam kasus diatas pun
begitu, Zaini dipaksa mengaku telah membunuh majikannya sendiri, tetapi itu
hanyalah sebuah paksaan dari pihak translator dan kepolisian. Sungguh keras dalam
menjadi TKI itu, dan sungguh menyedihkan sekali orang orang yang menjadi TKI
karena bisa saja mendapatkan majikan yang kurang pantas.
Mencari nafkah hingga ke negara orang, karena minimnya
lapangan pekerjaan pada negara sendiri, sulit untuk mendapatkan pekerjaan, dan
pada akhirnya beberapa orang menjadi TKI rela meninggalkan keluarganya.
Seharusnya TKI itu diberikan perlindungan berupa undang undang agar lebih aman.
Jadi yang terkait dalam materi adalah tentang
penderitaan, kenapa penderitaan? Karena dalam kasus di atas korban seperti
terkena fitnah, korban di paksa untuk mengakui kalau dia membunuh majikannya
sendiri oleh penerjemah dan polisi, dia di paksa mengakui hal yang bukan dia
perbuat, dan dia di hukum mati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar